Mars Kota Tegal

Posted in Fotografi on 23 November 2009 by sastrategal

 

 

JOSHUA BUDY GUTOMO

Tempat/tgl lahir           :  Magelang, 18 April 1968

Jenis Kelamin                 :  Laki-laki

Alamat                              :  Jl Pala Barat I Blok H2, No. 42 Mejasem Barat, Kramat

Kabupaten Tegal

Pekerjaan                       :  Musisi, penulis

Ringkasan

Joshua Budy Gutomo atau yang lebih akrab dengan nama Joshua Igho, adalah musisi dan penulis. Di sela kesibukannya, Ia juga menekuni bidang desain web, sinematografi, dan menulis puisi untuk beberapa antologi puisi yang telah diterbitkan. Saat ini ia sedang aktif menjadi tim kreatif salah satu kandidat The Master RCTI.

Disappear Card – Joshua Igho BG

Posted in Artikel on 26 Juni 2009 by sastrategal

Kemanakah hilangnya satu kartu?

Bintang di Langit – Vina Eudia

Posted in Artikel on 22 Juni 2009 by sastrategal

Nama: Sisilia Vina Eudia
Umur: 9 Tahun
Sekolah: Kelas 4 SD
Nama Ayah/Ibu: Joshua Igho BG/Clara Weny Hendrawati
Belajar piano pada ayahnya sejak kelas 1 Sekolah Dasar

Jumat Kagetan Mendiang Parto Tegal – Lanang Setiawan

Posted in Cerpen on 29 Maret 2009 by sastrategal

Rasanya baru kemarin dia datang di rumahku. Sosok bayangan berkacamata ray baen, dan rambut klimis berombak itu masih membekas di alam pikiranku. Dia berdiri di sirip pintu masuk, tampak gagah dan bugar mengenakan kaos putih dan celana biru levis> Siapa sangka jika siang ini dia berpulang? Sedemikian cepat waktu menghabisi usianya dengan ganas. Kabar itu mengejutkan, memaksa degub jantungku menghilang untuk sejenak.


“Sing bener baé Ud. Aja guyon….”

“Éh, blèh percaya?”

“Parto Tegal mati?”

“Ya!”

“Inna lillahi wa inna illaihi rojiun….”


Seratus hari lalu, Parto Tegal membawa berita lelayu tentang kematian sahabatnya, Jai. Kini, dengan perasaan terpapas, aku ditimbuni duka nestapa ketika Udi datang membawa kabar kematian Parto, aktor film yang biasa berperan sebagai tokoh antagonis.


“Nguburé jam pira, Ud?”

“Ba’da Jumat,”


Udi berlalu. Aku menyandarkan diri pada kursi penjalin. Kupandangi atap-atap rumah sambil kuredakan kegalauan gaduh yang sekonyong-konyong menyerbu dalam dada dengan cara menghisap sigaret. Kepulan asap kubiarkan menderas melesat dari mulut seperti lajunya kembara anganku memunguti potongan kenangan bersama dia.


Tiga tahun silam, aku kenal Parto ketika masih bekerja pada Mingguan Swadesi. Kami berjumpa di siang berawan di studio Serenada dalam suasana paseduluran. Kami ngobrol soal budaya Tegal dan memoar dirinya selama dia bergulat dalam dunia teater dan perfilman. Dia tergolong orang yang enak diajak ngobrol. Bicaranya blak-blakan dengan tawa berderai seperti tidak ada beban. Ada sekitar dua jam kami ngobrol santai.


“Jadi tahun limapuluh-an sampeyan sudah bergabung di komunitas Tunas?” tanyaku.

“Ya tapi tepaté aku berteater di Tunas tahun limapuluh sembilan. Istilah dulu bukan teater tapi senidrama. Aku bergabung dalam Ikatan Seniman Muda (ISM) Tunas pimpinan Woerjanto dengan arahan sutradara Kang Jai,” ungkap Parto Tegal dalam wawancara itu.

 

“Awal main film?”

 

Parto menghempaskan nafas. Semua obrolan kucatat di block note.


“Secara kebetulan saja. Waktu itu Usmar Ismail sedang bikin film dokumenter The Fish Man yang mengambil lokasi syuting di Tegal. Dia pernah melihatku main teater dan tertarik, kemudian aku diajak untuk mendukung film itu. Dari situlah aku terlanjur basah nyemplung, sekalian saja memantapkan diri ke film,”

“Sebelum itu pernah juga di Bengkel Teater Rendra ya, Pa?”

“Ya, itu waktu aku main bersama Jai dalam Malam Jahanam karya Motinggo Busye. Mas Willy sempat nonton. Mas Willy agaknya terkesan menyaksikan aku bermain, terus bubar pementasan langsung memintaku untuk masuk di Bengkel Teater. Sebetulnya sih bukan aku saja yang maunya diajak Mas Willy. Kang Jai dan Imam Sumarto juga ditawari bergabung, tapi mereka keberatan. Alasan Jai, kalau semua hijrah ke Jogja siapa yang mengurusi teater di Tegal? Bagus juga pikiran Jai, barangkali tamat sudah sejarah perteateran Tegal jika waktu itu boyong ke Jogja semua!”


Itu hasil wawancaraku dengan Parto yang masih kusimpan dalam buku harian. Tapi pergaulanku dengan dia tidak putus di situ. Belakang hari, kami disatukan oleh Hadi untuk memperkuat tim kreativitas Guyon Tegalan. Aku ditugasi sebagai penulis, dan Parto tetap mendalami keaktoran peran sekaligus merangkap sebagai sutradara.


Ada kenangan yang tak gampang terlupakan selama aku bergaul dengan dia. Suatu hari, aku ditugasi Hadi Utomo untuk menulis epos perjuangan wong Tegal tahun 1947. Kukebut naskah sandiwara radio Tegal Bledugan itu karena mendesak untuk menyambut perayaan Tahun Emas HUT RI Ke-50. Usai menyelesaikan naskah itu, aku didaulat oleh Hadi untuk memilih siapa saja pemeran yang layak diikutkan dalam sandiwara di radio Serenada. Salah satu pemeran yang aku pilih untuk memerankan tokoh Jayeng Laga adalah Parto Tegal. Namun beberapa hari setelah aku memberikan naskah itu, dia keberatan. Tak tahu kenapa Parto menolak peran dan memintaku untuk menukar peran lain. Padahal, dalam benakku, tokoh Jayeng Laga cukup pas dimainkannya.


“Bisané njaluk ganti, Kang?” aku mencoba mengorek alasan dia saat aku bertandang di rumahnya, di Desa Pepedan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal.


“Aku lebih sreg memerankan tokoh Bekel Subur, Nang. Biar saja peran Jayeng Laga dimainkan Endhy Kepanjen,” katanya.

“Kaya kuwé, Kang?”

“Ya”

 

Aku menyadari keputusan yang diambil Parto. Berpuluh tahun dia bergelimang di perfilman. Peran antagonis sudah mendarah daging dalam dirinya, membuat kejenuhan bertumpuk begitu mendapatkan peran seorang bajingan. Dalam usia dia yang sudah berangkat senja, imej kepahlawan menjadi sebuah idaman kegairahan bagi dirinya. Dan itu merupakan keputusan yang sedang dia perjuangkan. Tak salah kalau kemudian dia memilih peran Bekel Subur, seorang pejuang dari laskar rakyat, sebagai pengganti peran Jayeng Laga. Sungguh, pada saat itu aku dan Endhy seperti merasakan ada getaran gaib menyelubungi jiwa. Terutama pada dialog sangar bertudung kutukan.


“Aja kakèhen cocot Bekel Subur, sedèlat maning raimu bakal modar!”

 

Ketika ucapan itu dimuntahkan Endhy Kepanjen, aku melihat perubahan wajah Parto menjadi pucat-pasi dengan bibir menggigil. Sekonyong-konyong aku merasakan nada gertakan Endhy seperti mengandung suara gaib berkekuatan misteri. Begitu merinding telingaku mendengarnya saat rekaman adegan itu berlangsung. Sepulang rekaman, aku mendiskusikan perasaan itu pada Endhy.


“Saya miris waktu ènté mengucapkan sumpah serapah pada Parto. Suasana di studio rekaman seperti dikepung aroma magis. Kowen ngrasakna belih, Ndih?” kataku.

“Saya membentak-bentak Pak Parto bukan bermaksud kurangajar, tapi karena tuntutan skenario. Saya harus bisa menjiwai karakter antagonis yang dimaui sang sutradara. Tapi betul juga katamu, Nang. Pada saat adegan percekcokan itu berlangsung, saya merasakan ada suasana misteri” katanya.


Diskusi panjang itu, kini baru terjawab. Suasana misteri berteka-teki di antara kami itu menjadi kenyataan dengan adanya berita kematian Parto Tegal.


“Ajib ya, Nang? Kata-kata yang aku ucapkan itu jebulé dadi kasunyatan!” kata Endhy ketika aku berkeliling mengabari berita lelayu kematian Parto.

“Ya, itulah kata-kata. Kadang bertuah dan berbisa!”


Aku mohon diri. Motor bututku merayap bergegas menyambangi kediaman Bontot Sukandar. Bontot adalah teman lama di Teater Puber, juga seorang wartawan Pos Film setelah Gaharu.

 

“Parto Tegal wis ora nana,” kataku tanpa basa-basi.


Kuperhatikan wajah Bontot sekonyong-konyong berubah dratis. Begitu aku lucurkan berita lelayu, matanya melotot seperti hendak melompat dari tempatnya dengan leher tercekik.


Kowen aja guyonan, Nang! Tanggal 27 winggi enyong tembé wawancara karo Parto,” katanya tak percaya.

Pokoké kowen teka melayat. Kanca-kanca dikabari kabèh, ya?


Bontot linglung. Kuperhatikan wajahnya pias dengan bola mata menerawang kosong seperti orang yang baru saja siuman dari pingsan seharian. Aku mengerti bagaimana redamnya hati Bontot, karena sosok Parto Tegal pernah menjadi ikon kekaguman dalam hidupnya sebelum dia berjumpa secara fisik dengannya. Kekaguman dia pada Parto boleh dibilang begitu mendalam. Dia pernah mengekspresikan kekagumannya pada Parto lewat sebuah cerpen berjudul Parto. Cerpen itu dia dikirim ke Mingguan Suara Karya, tapi gagal dimuat. Dia revisi lagi dan dikirim ke penerbitan lain, juga gagal. Dan entah sudah berapa kali cerpen Parto dia revisi dan dia kirim ke Kompas, juga gagal sampai kemudian dia bertemu secara fisik dengan Parto Tegal, baru cerpen itu tak lagi dia kirimkan!


Mengingat kehebohan Bontot semacam itu, aku dapat meraba bagaimana perasaan dia menerima berita lelayu ini. Kuperhatikan wajahnya tengadah ke langit putih dengan bola mata menatap hampa. Aku tepuk pundaknya, sekonyong-konyong dia tersadar dari lamunan.

 

Éh pibèn, Nang? Kowen miki ngomong apa?

“Parto Tegal meninggal. Kanca-kanca tulung dikabari,


Aku meninggalkan Bontot dalam ketermanguan gulita. Tapi rasa terpukul itu agaknya tak hanya dirasakan oleh Bontot belaka, melainkan dirasakan pula oleh Hadi ketika aku mengambarinya lewat telpon.


“Iya, Nang. Nyong wis ngarti saka Ida Hamidah. Tulang belulangku seperti dilepasi. Nyong sedih dan bukan perkara gampang melupakan peranan Parto di Guyon Tegalan,” aku Hadi dalam rasa pilu mendalam.


Amat logik jika Hadi merasakan kesedihan yang menimbulkan kegalauan tak terperi karena sebelum Parto meninggal, jauh-jauh dia sudah menulis beberapa judul lakon yang siap diproduksi Radio Star. Dia berminat menghidupkan kembali kejayaan Guyon Tegalan kendati tokoh Kang Jai telah berlalu. Tapi apalah dikata, manusia berencana, tapi Tuhan jua yang menentukan.


“Bukan kepalang saya kaget. Durung rampung gagasané enyong repan ngumpulna kanca-kanca Tegalan, nyong olih telpon Mas Parto ora nana sing Kasri. Apa kiyé ora gawé gelané enyong? Mangkané enyong uwis gawé naskah Tegalan pirang-pirang” katanya.


Hadi pantas terpuruk dan diliputi perasaan remuk-redam. Dua kali dia menerima kenyataan pahit semacam itu. Seratus hari sebelumnya, dia bersamaku dan Parto bareng melayat dan mengabari kawan-kawan. Kini, orang yang bareng melayat Kang Jai itu telah berpulang mendahului kami untuk selama-lamanya.


Bukan hanya Hadi yang kehilangan satu teman lagi, tapi hatiku juga dirajam nestapa. Kesedihan serasa menggumpal, bergulung-gulung dan menghantam dadaku.
Di langit, matahari mulai memanas. Suara orang mengaji sayup-sayup terdengar. Hari ini memang jatuh pada hari Jumat. Sebentar lagi orang berbondong menuju masjid. Bergegas aku memacu motorku menuju rumah Woerjanto. Sampai di sana, aku dicegat istri Pak Woer (sapaan Woerjanto) di pelataran rumah.


“Ada kabar apa, Mas Lanang?” Bu Woer seakan menangkap maksud kedatanganku.

“Pak Woer ada bu?”

“Lagi istirahat. Ada apa sih?”

“Parto Tegal meninggal!”


Mulut Bu Woer ternganga dengan bola mata seperti melihat setan gundul dalam keremangan malam.


“Parto Tegal meninggal? Kapan?” sergap Bu Woer.

“Iya. Semalam,”


Sing bener ah

“Betul, Bu. Saya mau mengabarkan kepada Pak Woer,”


“Jangan! Saya tidak boleh. Kemarin saja waktu Mas Lanang ngabari Jai meninggal, Pak Woer kepikiran terus. Maaf ya, Mas Lanang, Pak Woer jangan dikasih tahu. Nanti saya yang kasih tahu saja. Maaf ya maaf” pesan Bu Woer.


“Gitu ya, Bu? Gak masalah, saya hanya mau menyampaikan amanat ini agar Pak Woer tahu. Ya wis Bu nyong pamit


Aku berlalu. Dalam hati aku mahfum. Aku menyadari kondisi Pak Woer yang belakangan suka sakit-sakitan, tidak etik jika aku memaksa bertemu dengan dia. Gambaran wajah dia saat mendapat kabar kematian Jai masih kukenang. Kala itu sorot mata Pak Woer selalu menerawang jauh. Aku bisa meraba kepedihan jiwanya. Karena Parto dan Jai adalah sahabat seperjuangan dalam komunitas Tunas. Perasaan kehilangan yang dalam tentu menyelebungi jiwanya yang renta. Biarlah urusan ini ditangani sang istri bagaimana cara dia menyampaikan kabar duka.


Bergegas aku menjemput Gaharu. Setelah sholat Jumat, kami melaju ke rumah duka. Kami inginkan hari ini mendayung dua pulau sekaligus, melayat dan memburu data tambahan tentang kiprah Parto untuk bahan laporan pada Jurnal Tegal Tegal. Saat ini kami memang sedang membangkitkan kembali tabloid Tegal Tegal dalam format majalah yang berfokus pada dunia seni dan budaya

*

 

Rumah Duka


Tidak seperti kesenyapan nestapa yang melanda di rumah duka Jai saat dia meninggal, di rumah duka Parto Tegal justru sebaliknya berjejal orang taziah. Kursi berjejer memenuhi halaman rumah. Di samping rumah, terlihat segerombolan orang kampung sedang mengukir nama, tanggal lahir, dan hari kematian almarhum. Ada Hadi di sana dengan wajah kuyu. Umi Azizah, pemeran Yu Jenah, juga Bu Sri Redjeki, pemeran Yu Kapsah tampak hadir dengan wajah sembab karena linangan air mata. Bontot Sukandar memasang wajah murung. Rasa kehilangan dia lampiaskan dengan menghisap rokok kuat-kuat. Hal serupa terlihat juga pada Udi. Berulangkali aku perhatikan kepulan asap rokok menggumpal di sekitar bibir. Ia mengaku kehilangan betul karena saat-saat terakhir jelang kematian Parto, dia kerap kali bertandang ke rumahnya untuk menangani pijat refleksi manakala Parto mengeluhkan kondisi kesehatannya yang gampang droup.


“Hampir dua hari sekali aku nyambangi Pak Parto. Kemarin lusa aku ngontrol, kondisi dia kelihatan segar bregas. Tapi hari ini aku tersentak dan tak percaya semua ini terjadi. Aku datang jam sembilan pagi tadi, melihat banyak orang berkumpul di depan rumah, jebulé Pak Parto ora nana,”


Kudengan nada bicara Udi diselubungi rasa pedih. Terasa berat dan serak waktu dia mengucapkan kalimat itu. Matanya merkabak seperti hendak menangis. Semua kata yang aku dengar dari para pelayat aku rekam dalam batok kepalaku sebagai pelengkap data untuk bahan tulisan. Siapapun yang merasa mengenal Parto, diobrak-abrik perasaan duka. Tapi lain lagi yang aku amati pada diri Yono Daryono. Ia yang belakangan menjadi repoter RCTI, berdiri di pojok pagar tapi matanya plorang-plorong seperti ada sesuatu yang dia cari. Dia menenteng tas besar berisi sebuah kamera.


Enté cari sapa, Jon?” aku menyapanya sambil mendekat dia dengan panggilan ‘Jon’ sebagai kebiasaan orang Tegal menyebut nama lelaki.


“Sapa ya yang bisa diajak ngomong tentang Parto?”


“Hadi Utomo juga bisa” usulku.


“Pak Woer layat ora ya?”


Kayané ora. Aku mau mana wongé lagi turu. Parani baé nang umahé oh,”


“Ya wis. Bar layat aku langsung mana, bèn ngko bengi bisa tayang,”


Tepat pukul dua siang, jenazah Parto diusung dengan keranda menuju pemakaman Desa Pepedan. Berkelok-kelok para pelayat melewati gang kemudian bablas menyebrang jalan raya. Sepuluh menit sampai di pemakaman. Keranda diturunkan. Tiga orang masuk dalam liang lahat. Tiga orang lainnya membopong jenazah ditangkap tiga orang yang ada di liang lahat. Proses pemakaman berlangsung singkat. Dan aku pulang dengan membawa pikiran kelabu. Satu tokoh yang dengan bangga menyantumkan nama Tegal dibelakang namanya itu, kini telah berkalang tanah!

 

*

 

Kenangan Pak Woer

Sejak hari kematian Parto Tegal, kami; aku dan Gaharu berniat bikin laporan panjang di Jurnal Tegal Tegal tentang apa dan siapa Parto di dunia teater dan film. Sebagian data tentangnya sudah kami kumpulkan. Kini tinggal menunggu tulisan dari Pak Woer. Sudah seminggu lalu kami meminta tulisan pada Woerjanto lewat sang istri. Penerbitan perdana Jurnal Tegal Tegal segera saja meluncur, kami jadi cemas menunggu kiriman tulisan Woerjanto. Bagi kami, tulisan itu dia sangat penting karena ditulis oleh orang yang pernah bergumul dengan Parto saat berkecimpung di Tunas tahun 1950-an.


Tulisan Woerjanto akhirnya datang juga diantar sang istrinya. Aku mendapatkan tulisan itu lewat istriku sore hari, karena sepanjang siang kami liputan. Dadaku berdegup waktu membuka sampul berwarna putih. Apakah Woerjanto menulis catatan tentang Parto Tegal dalam bentuk sajak seperti dulu dia mengenang mendiang Kang Jai? Aku kenali watak Woerjanto bukan tipe orang yang suka banyak kata. Ia lebih sublim mengekspresikan gejolak jiwanya melalui karyanya ketimbang obrolan tanpa cuntrung. Dia cerdas, kebapakan, dan reverensi tentang seni dia kuasai. Tak mengherankan kalau dia sering di-dhapuk sebagai ketua berbagai bidang kesenian.


Aku bersandar pada kursi di ruang tengah. Pelan-pelan surat dari Pak Woer aku buka dan kubaca.


“Hari itu Sabtu 18 Januari 1997, Parto Tegal datang ke rumah saya membawa berita duka tentang meninggalnya sahabat kami Sudjai S. Dengan rasa harus, seharian itu saya bersama Parto Tegal dan teman-teman seniman yang lain mengatakan rasa bela sungkawa, mengikuti prosesi pemakaman almarhum dari awal hingga selesai. Sedikitpun saya tidak mengira, bahwa saat-saat itu merupakan saat-saat terakhir saya dapat bertemu dengan Parto Tegal. Waktu itu Parto Tegal nampak sehat tak ada sedikitpun tanda, bahwa ia mengidap satu penyakit. Selang seratus hari kemudian Lanang Setiawan datang ke rumah memberitakan, bahwa Parto Tegal meninggal dunia. Rasa kaget dan masgul sempat membuat saya shok. Betapa cepat rasanya waktu berlalu. Seperti baru kemarin sahabat saya Sudjai pergi buat selama-lamanya, sekarang seorang lagi sahabatnya meningalkan kita semua. Parto Tegal dan Sudjai S memang merupakan dua bersahabat yang sejati. Baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam kegiatannya sebagai sesama seniman. Mereka berdua bersama-sama mengawali kariernya dibidang senidrama dan bersama-sama pula mengakhiri kariernya itu. Parto Tegal bergabung dalam ikatan Seniman Muda (ISM) “Tunas” Tegal sejak tahun 1959 menyusul langkah Sudjai S yang pada waktu itu menjadi Ketua Seksi Senidrama sejak berdirinya ISM Tunas pada tahun 1954. Ketika pada tahun 1960 Parto Tegal bermain bersama Sudjai S dalam drama ‘Malam Jahanam’ karya Motinggo Busye, sempat menarik perhatian WS Rendra yang waktu itu menyaksikan pergelaran tersebut di Gedoeng Tawang Samudra Tegal. Dan langsung saja Rendra mewawarkan kepada Parto Tegal dan Sudjai S serta Imam Sumarto untuk bermain bersama Bengkel Teater di Yogyakarta. Pengalaman Parto Tegal yang lebih lama mukim di Yogya, memberi manfaat besar bagi perkembangan ISM Tunas dalam memperjuangkan kehidupan senidrama di Tegal. Menyusul diselenggarakannya pergelaran-pergelaran drama yang disutradarai dan/atau diperani oleh Parto Tegal, antara lain: ‘Penggali Intan’ karya Kirjo Mulyo, ‘Suara-suara Mati’ karya saduran Sunarto Timur atas karya asli Manuel Van Legen, ‘Tanda Silang’ karya Eugene Ionescu, ‘Hanya Satu Kali’ karya Sitor Situmorang dll.
Parto Tegal adalah sosok yang suka belajar dari siapa saja yang dianggapnya mempunyai kelebihan dari dirinya. Dan ia pun dengan senang hati memberikan pengalamannya kepada rekan-rekan sesama seniman. Sebagai aktor maupun sebagai sutradara, ia selalu bertindak cermat. Tehnik dramaturgi dipegangnya baik-baik, sehingga ia mampu menampilkan pergelaran drama yang memenuhi selera estetika. Dalam kegiatannya di bidang teater di Tegal pada waktu itu, seingat saya ia belum menggunakan nama Parto Tegal. Ia masih menggunakan nama aslinya Suparto Prayitno. Saya tidak ingat mulai kapan ia dengan bangga menggunakan nama Parto Tegal. Kalau tidak salah, nama itu digunakannya setelah ia terjun ke dunia film. Minatnya terhadap dunia film mulai tumbuh ketika ia mendapat kesempatan ikut bermain dalam film dokumenter karya Usmar Ismail “The Fish Man” yang mengambil lokasi syuting di Tegal. Cukup lama ia tinggal di Jakarta dalam upayanya menggeluti dunia film dengan menghadapi berbagai macam tantangan. Setelah kurang lebih 20 tahun, Parto Tegal pulang mudik ke kampung halamannya di Tegal. Dan satu-satunya teman yang pertama kali ditemuinya adalah sahabat sejatinya: Sudjai S. Ia mengajak sahabatnya itu untuk mengadakan kegiatan seperti dulu. Dan bidang yang dipilihnya adalah membuat drama radio bersama Moch. Hadi Utomo yang mengelola Radio Serenada di Slawi. Maka mulailah memancar acara “Guyon Tegalan” yang ternyata mendapat simpati dari para pendengarnya.


Setelah 5 tahun suara Parto Tegal dan Sudjai S terdengar melalui radio Serenada, Sudjai S terkena strooke yang kemudian menyebabkan kematiannya. Dan seratus hari kemudian Parto Tegal menyusul sahabat sejatinya itu. Padahal akhir-akhir ini ia sedang banyak mendapat kesempatan dan tawaran main sinetron, seperti pada serial “Imung” yang hingga sekarang (tahun 1997 –red) dapat disaksikan setiap Minggu sore melalui layar kaca SCTV. Tetapi apa hendak dikata. Manusia dapat berharap dan berusaha, namun Tuhan jualah yang menentukan segalanya. Selamat Jalan sah$abatku. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”


Surat Woerjanto itu ditulis dengan tangan di atas kertas folio bergaris. Semua huruf ditulis dalam condong dan cukup rapih. Berulangkali tulisan itu aku baca tak kunjung perasaan kelu bergejolak dalam diriku.


Tulisan Woerjanto aku salin pada komputer. Sekarang sudah lengkap bahan-bahan penerbitan Jurnal Tegal Tegal tinggal di-lay out dan dicetak.

Pentas Tiga Penyair Perempuan

Posted in Berita on 23 Februari 2009 by sastrategal

TEGAL – Pentas tiga perempuan penyair muda, yaitu Dina Oktaviani, Dian Hartati dan Nana Eres mampu ”menghipnotis” para penonton yang memadati ruangan Gedung Kesenian, Kota Tegal, Sabtu malam (21/2).

Mereka membawakan karya sastra secara apik. Penonton yang hadir tidak hanya kaum seniman, namun sejumlah kawula muda juga turut menyaksikan hingga selesai pertunjukan.

Bahkan, Wali Kota Tegal terpilih Ikmal Jaya SE Ak juga terlihat menyimak secara seksama pentas yang baru kali pertama dilaksanakan di Kota Tegal tersebut. Saat itu, Ikmal Jaya didampingi istrinya Rosalina.

Menurut Panitia Penyelenggara Kertas Putih Production, Joshua Igho, kegiatan tersebut digelar dalam rangka memotivasi kalangan muda dan para seniman Kota Tegal agar terus bisa berkarya. Selain itu, meramaikan dunia kesenian yang selama ini terkesan mati suri.

”Kami berharap dengan pentas ini, dapat menggugah para seniman dan masyarakat untuk terus berkarya,” katanya.
Igho mengemukakan, Dina Oktaviani merupakan seniman kelahiran Bandar Lampung, 11 Oktober 1985.

Ia pernah bekerja sebagai reporter remaja di Harian Umum Lampung Post, Bandar Lampung dan anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL), sebelum meneruskan studi di Jurusan Bahasa Prancis di Universitas Negeri Jakarta.

Puisi
Saat ini, Dina tinggal di Yogyakarta. Karya-karyanya berupa puisi dan cerita pendek pernah dimuat di berbagai media.

Sejumlah puisinya karyanya, juga masuk dalam antologi 100 Puisi Terbaik 2008 yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Antara lain Como Un SueÒo (kumpulan cerpen, 2005) dan Biografi Kehilangan (kumpulan sajak, 2006).

Sedangkan, Dian Hartati lahir di Bandung, Jawa Barat, 13 Desember 1983. Dia bergiat di dunia kepenulisan sejak tahun 2002.

Menurut Igho, pada Desember 2005 pernah mengikuti workshop penulisan cerpen yang diadakan oleh Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga. Ia juga bekerja sama dengan Creative Writing Institute (CWI) di Jakarta.

Igho menambahkan, Juli 2006 Dia juga menjadi peserta workshop Bengkel Kerja Budaya. Yakni, untuk belajar menulis sejarah sosial masyarakat yang diadakan oleh Lafadl dan Desantara di Yogyakarta. Selain itu, mengikuti workshop penulisan kritik, esai, dan jurnalisme sastra yang diadakan oleh Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta (2008).

Menurut dia, puisi dan cerpennya juga tersebar di media massa lokal dan nasional di Indonesia dan terkumpul dalam puluhan antologi. ”Dian Hartati sering memenangi berbagai kompetisi penulisan sastra,” ujar Igho.

Sementara, Nana Eres merupakan seniman asli kelahiran Tegal, 2 Oktober 1990. Karya-karya puisinya juga tersebar di berbagai media lokal dan nasional. Antara lain Republika, Lampung Post dan terhimpun pada antologi puisi Aku Ingin Mengirim Hujan (DeKaSe, 2008), Anak-anak Peti (KSI Ungaran, 2008).

Menurut Igho, Nana juga sering menjuarai lomba baca puisi dan pementasan teater di berbagai kota di Indonesia. Tahun 2009, beberapa puisinya terpilih masuk ke dalam Penghargaan Pena Kencana. (H17-52, Suara Merdeka, 23 Februari 2009)